Tarakan Butuh 3.000–4.000 Sapi Setahun, Bone Punya Peluang Rebut Pasar Kalimantan Utara

BISNIS & KEUANGAN 08 Sep 2026 08:30 5 min read 40 views By Yusnadi

Share berita ini

Tarakan Butuh 3.000–4.000 Sapi Setahun, Bone Punya Peluang Rebut Pasar Kalimantan Utara
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman dan Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul Saleh di Rumah Jabatan Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Senin (7/9/2026).

BONE, ZATERANEWS.COM — Kabupaten Bone tidak kekurangan sapi. Yang selama ini menjadi tantangan justru bagaimana populasi ternak yang besar itu bisa memberi nilai ekonomi lebih tinggi bagi peternaknya.

 

Peluang tersebut kini terbuka setelah Pemerintah Kota Tarakan, Kalimantan Utara, membuka kerja sama pasokan sapi dengan Pemerintah Kabupaten Bone.

 

Pasarnya bukan kecil. Tarakan memperkirakan membutuhkan sekitar 460 ton daging sapi per tahun, atau setara dengan kebutuhan sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor sapi.

 

Angka itu membuka peluang bagi Bone untuk mengubah kekuatan populasi ternaknya menjadi pasar lintas pulau yang lebih berkelanjutan.

 

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman dan Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul Saleh di Rumah Jabatan Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Senin (7/9/2026).

 

Namun, bagi Bone, tantangannya bukan sekadar mengirim sebanyak mungkin sapi ke Kalimantan Utara.

 

Pemerintah daerah harus memastikan peluang pasar tersebut benar-benar mampu menaikkan pendapatan peternak, bukan justru memperbesar keuntungan pedagang di tengah lemahnya posisi tawar pemilik ternak.

 

Tarakan Cari Sumber Pasokan Baru

 

Wali Kota Tarakan dr. Khairul Saleh mengatakan kondisi geografis membuat daerahnya masih bergantung pada pasokan pangan dari wilayah lain.

 

“Tarakan tergantung dari luar untuk pangan. Luas wilayahnya kecil, tidak besar. Selama ini memasok dari Jawa dan Sulawesi,” ujar Khairul.

 

Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, Tarakan selama ini mendapatkan pasokan dari sejumlah daerah, di antaranya Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Gorontalo.

 

Kini Bone dilirik sebagai salah satu sumber pasokan baru.

 

Selain dikenal sebagai salah satu sentra sapi di Sulawesi Selatan, posisi Bone dinilai cukup strategis untuk membangun jalur perdagangan menuju Kalimantan Utara.

 

“Kita lihat dari segi geografis Bone dekat dengan Tarakan dan Bone ini merupakan salah satu sentra sapi. Maka kita membuka kerja sama dengan Bone. Bisa saling membackup,” jelasnya.

 

Kebutuhan sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor per tahun membuat peluang pasar tersebut cukup besar.

 

“Kita berharap suplai sapi untuk Tarakan bisa terpenuhi. Kebutuhan sapi sekitar 460 ton atau 3 ribu sampai 4 ribu ekor. Kita berharap sebanyak-banyaknya kuota Bone,” tegas Khairul.

 

Bone Punya Populasi, Tantangannya Nilai Jual

 

Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menyambut positif terbukanya pasar Tarakan.

 

Bone, kata dia, memiliki modal besar dari sisi populasi ternak.

 

“Bone populasi ternaknya tertinggi di Sulsel. Bahkan ada kecamatan di Bone yang lebih padat sapinya daripada

orangnya,” ujar Andi Asman.

 

Tetapi pemerintah tidak ingin keberhasilan peternakan hanya diukur dari banyaknya jumlah sapi.

 

“Kita berkomitmen tidak melihat populasi saja, tetapi kita ingin kualitas,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena peluang pasar lintas pulau akan menuntut sapi dengan kualitas, kesehatan dan tata niaga yang lebih baik.

 

Apalagi, persoalan yang masih menghantui peternak bukan hanya produksi, tetapi juga posisi tawar saat menjual ternaknya.

 

Saat Peternak Terdesak, Pedagang yang Menentukan Harga

 

Andi Asman mengakui sebagian peternak masih berada dalam posisi yang kurang menguntungkan ketika berhadapan dengan kebutuhan ekonomi mendesak.

 

Sapi yang telah dipelihara bertahun-tahun bisa saja dijual dengan harga lebih rendah karena pemilik membutuhkan uang dalam waktu cepat.

 

“Biasanya masyarakat setelah memelihara sapi terkadang tidak melihat nilai. Tetapi ketika sudah terdesak, biasanya langsung dijual meski harganya rendah. Jadi yang untung pedagang,” ungkapnya.

 

Persoalan inilah yang harus dibenahi jika pasar Tarakan benar-benar ingin dijadikan mesin ekonomi baru bagi peternakan Bone.

 

Jangan sampai kebutuhan pasar meningkat, jumlah sapi yang keluar daerah bertambah, tetapi pendapatan peternak tetap tidak bergerak signifikan.

 

Karena itu, Pemkab Bone mulai mendorong penguatan ekosistem peternakan, mulai dari kualitas ternak, kesehatan hewan hingga tata niaga.

 

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat pelayanan kesehatan melalui rencana pembangunan Puskeswan Desa (Puskeswandes).

 

Bone juga terus mengembangkan inovasi PAJASA, integrasi Padi, Jagung dan Sapi yang menghubungkan sektor tanaman pangan dengan peternakan.

 

Melalui konsep tersebut, hasil maupun limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk mendukung usaha peternakan sekaligus menekan biaya produksi.

 

Dari Pasar Kurban ke Pasar Berkelanjutan

 

Selama ini sapi Bone telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Sulawesi Selatan, terutama untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban menjelang Idul Adha.

 

“Bone juga menjadi pemasok sapi terbesar ke luar daerah untuk kebutuhan kurban Idul Adha,” kata Andi Asman.

Pasar Tarakan menawarkan karakter yang berbeda.

 

Jika pasar kurban memiliki puncak permintaan pada momentum tertentu, kebutuhan Tarakan sekitar 3.000–4.000 ekor per tahun berpotensi menjadi jalur perdagangan yang lebih berkelanjutan.

 

Namun peluang tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan bagi Bone.

Produksi harus mampu memenuhi permintaan, kualitas ternak harus terjaga, kesehatan hewan harus dijamin, dan sistem perdagangan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi peternak untuk memperoleh harga yang layak.

 

Sebelumnya, Pemkab Bone juga telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan. Respons positif ditunjukkan melalui dukungan hibah sapi Bali untuk dikembangkan di Bone.

 

“Alhamdulillah direspons dengan adanya hibah sapi Bali. Kami sudah kembangkan di Bone,” katanya.

 

Tarakan Tak Hanya Ingin Membeli Sapi

 

Kerja sama Bone dan Tarakan juga berpeluang berkembang lebih jauh dari sekadar transaksi perdagangan.

Wali Kota Tarakan Khairul mengatakan pihaknya berharap ada transfer pengetahuan dan pendampingan dari Bone agar sektor peternakan di Tarakan juga dapat berkembang.

 

“Sembari kita berharap juga ada bimbingan ke depan agar Tarakan ini punya peternakan juga,” tandasnya.

 

Artinya, hubungan kedua daerah tidak harus berhenti pada pola Bone sebagai pemasok dan Tarakan sebagai pembeli.

 

Bone memiliki basis produksi dan pengalaman pengembangan sapi. Tarakan memiliki pasar sekaligus kebutuhan untuk membangun sektor peternakannya sendiri.

 

Jika kerja sama tersebut diterjemahkan dalam program konkret, MoU kedua daerah bisa menjadi awal terbentuknya jalur perdagangan sapi lintas pulau sekaligus kerja sama pengembangan peternakan.

 

Kini pekerjaan rumahnya ada di Bone: memastikan sapi yang keluar dari kandang peternak tidak hanya dihitung sebagai jumlah ekor yang terjual, tetapi juga sebagai nilai ekonomi yang mampu mengangkat pendapatan dan kesejahteraan peternak.

 

Sebab, pasar Tarakan boleh terbuka lebar. Tetapi keberhasilan kerja sama ini pada akhirnya akan diukur dari satu hal sederhana: apakah peternak Bone ikut menikmati besarnya pasar tersebut. (*)

Zatera News