Dari Antrean Subuh hingga Penikaman di SPBU, Krisis BBM Sulsel Kian Mengkhawatirkan

TERKINI 12 Sep 2026 15:00 4 min read 32 views By Aril

Share berita ini

Dari Antrean Subuh hingga Penikaman di SPBU, Krisis BBM Sulsel Kian Mengkhawatirkan
Krisis distribusi BBM yang berlangsung beberapa hari terakhir mulai menimbulkan dampak sosial yang serius, mulai dari aktivitas warga yang terganggu, harga eceran yang melambung, hingga konflik yang berujung tindak kekerasan.

MAKASSAR, ZATERANEWS.COM — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Sulawesi Selatan tidak lagi sekadar soal antrean panjang di SPBU. Krisis distribusi yang berlangsung beberapa hari terakhir mulai menimbulkan dampak sosial yang serius, mulai dari aktivitas warga yang terganggu, harga eceran yang melambung, hingga konflik yang berujung tindak kekerasan.

 

Di berbagai daerah, terutama Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, warga harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter pertalite.

 

Ada yang mulai mengantre sejak pukul 05.00 subuh di SPBU Antang, Makassar, namun baru mendapatkan BBM setelah melewati tengah hari.

 

Ada pula warga yang kehabisan bensin di tengah perjalanan pada malam hari dan terpaksa mendorong motornya hingga beberapa kilometer untuk bisa sampai ke rumah.

 

Antre Sebelum Subuh, SPBU Belum Buka

 

Daeng Tunru, warga Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, mengaku keluar rumah sekitar pukul 03.00 dini hari dengan harapan bisa mendapatkan BBM lebih cepat.

 

Namun sesampainya di SPBU Samata, Kabupaten Gowa, ia justru mendapati antrean kendaraan sudah mengular ratusan meter meski SPBU belum beroperasi.

 

"Saya putar balik karena tidak mungkin saya ikut antre dan menginap di sana," ujarnya.

 

Fenomena antrean sejak dini hari kini menjadi pemandangan umum di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan.

 

Pertalite Dijual Rp80 Ribu untuk Dua Liter

 

Kelangkaan BBM juga memicu lonjakan harga di tingkat pengecer. Ibu Yogi, warga Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Somba Opu, mengaku terpaksa membeli dua liter pertalite di sebuah Pertamini dekat rumahnya dengan harga Rp80 ribu.

 

"Daripada motor tidak jalan, terpaksa saya beli dua liter pertalite seharga Rp80 ribu," katanya.

 

Jika dihitung, harga tersebut setara Rp40 ribu per liter atau hampir empat kali lipat harga normal di SPBU.

 

Kondisi ini membuat beban masyarakat semakin berat, terutama bagi warga berpenghasilan rendah yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan roda dua.

 

Antrean Solar Berujung Penikaman

 

Dampak paling mengkhawatirkan dari kelangkaan BBM terjadi pada Jumat (11/9/2026) di salah satu SPBU di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.

 

Berdasarkan informasi yang diperoleh Zateranews.com, antrean panjang solar memicu perkelahian antara dua sopir truk hingga berujung penikaman.

 

Pelaku disebut telah mengantre sejak tengah malam. Namun saat giliran pengisian hampir tiba, korban diduga menyerobot antrean dengan mendahului kendaraan pelaku.

 

Perselisihan yang awalnya hanya adu mulut berubah menjadi perkelahian hingga korban ditikam menggunakan senjata tajam yang diduga jenis badik.

 

Peristiwa tersebut menjadi gambaran betapa tingginya tensi dan tekanan yang dirasakan masyarakat akibat sulitnya memperoleh BBM.

 

Warga Kecil Jadi Korban Terbesar

 

Berbagai kisah yang muncul dari lapangan menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak kelangkaan BBM adalah warga ekonomi menengah ke bawah.

 

Mereka harus mengorbankan waktu bekerja, tenaga, bahkan keselamatan hanya untuk mendapatkan satu hingga tiga liter pertalite.

 

Sebagian warga rela antre berjam-jam, sementara lainnya terpaksa membeli BBM dengan harga berkali-kali lipat di tingkat pengecer.

 

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas distribusi BBM di tengah kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.

 

Satgas Dibentuk, Antrean Belum Berkurang

 

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pertamina sebelumnya telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) penanganan distribusi BBM yang melibatkan unsur TNI dan Polri.

 

Namun hingga Sabtu (12/9/2026), antrean panjang masih terlihat di sejumlah SPBU.

 

Belum tampak perubahan signifikan yang mampu mengembalikan pasokan BBM ke kondisi normal.

 

Di sisi lain, kemarahan masyarakat mulai meluas.

 

Pada Jumat (11/9/2026), kelompok mahasiswa dan warga turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi. Massa bahkan mendatangi kantor Pertamina di Makassar untuk menyampaikan protes atas kelangkaan BBM yang berkepanjangan.

 

BBM Belum Selesai, LPG 3 Kilogram Ikut Langka

 

Persoalan yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada BBM.

 

Kelangkaan tabung gas LPG 3 kilogram yang sudah berlangsung beberapa waktu terakhir juga belum menunjukkan tanda-tanda membaik.

 

Di sejumlah wilayah, tabung gas melon masih sulit ditemukan. Kalaupun tersedia, harganya sudah jauh di atas harga normal dan mendekati Rp30 ribu per tabung.

 

Kondisi ini membuat beban masyarakat semakin berat karena harus menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni sulitnya mendapatkan BBM dan mahalnya harga gas bersubsidi yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga.

 

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi cepat dan terukur, maka dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu gejolak sosial yang lebih luas.

Zatera News